Indonesia Ebook

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Brian Khrisna

Ale, seorang pria berusia 37 tahun memiliki tinggi badan 189 cm dan berat 138 kg. Badannya bongsor, berkulit hitam, dan memiliki masalah dengan bau badan. Sejak kecil, Ale hidup di lingkungan keluarga yang tidak mendukungnya. Ia tak memiliki teman dekat dan menjadi korban perundungan di sekolahnya.
Ale didiagnosis psikiaternya mengalami depresi akut. Bukannya Ale tidak peduli untuk memperbaiki dirinya sendiri, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkungan pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.

Atas itu semua, Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Dua puluh empat jam dari sekarang, ia akan menelan obat antidepresan yang dia punya sekaligus. Sebelum waktu itu tiba, Ale membersihkan apartemennya yang berantakan, makan makanan mahal yang tak pernah ia beli, pergi berkaraoke dan menyanyi sepuasnya hingga mabuk.

Saat 24 jam itu tiba, Ale telah bersiap dengan kemeja hitam dan celana hitam, bak baju melayat ke pemakamannya sendiri. Ia kenakan topi kecurut ulang tahun dan meletuskan konfeti yang ia beli untuk dirinya sendiri.
“Selamat ulang tahun yang terakhir, Ale.”

Ale siap menenggak seluruh obat antidepresan yang ia punya. Saat ia memain-mainkan botolnya, Ale terdiam saat membaca anjuran di kemasan botol itu, dikonsumsi sesudah makan. Seketika perutnya berbunyi. Dan Ale pun memutuskan untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri. Setelah selama hidupnya ia tak pernah mampu melakukan hal-hal yang ia inginkan.

Ale akan makan seporsi mie ayam sebelum mati.

Download gratis Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati - Brian Khrisna.pdf

Silahkan download dan baca secara offline melalui perangkat mobile ataupun melalui perangkat dekstop Anda. Untuk mengunduh pdf ebook novel karya Brian Khrisna yang berjudul "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati", silahkan klik tombol di bawah ini.

Terima kasih telah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Untuk ebook, buku, novel, dan karya menarik lainnya, silahkan kunjungi di sini.

Book Detail

Penerbit
Gramedia Widiasarana Indonesia
Tanggal Terbit
20/01/2025
Halaman
216
ISBN
9786020531328

Related Books

Merayakan Kehilangan

Merayakan Kehilangan

Brian Khrisna

The Book of Almost

The Book of Almost

Brian Khrisna

Kudasai

Kudasai

Brian Khrisna

23:59

23:59

Brian Khrisna

Sisi Tergelap Surga

Sisi Tergelap Surga

Brian Khrisna

Bandung Menjelang Pagi

Bandung Menjelang Pagi

Brian Khrisna

Review

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah sebuah karya fiksi yang berakar dari kisah nyata para penyintas depresi akut, yang bertujuan untuk menemukan "alasan-alasan kecil" yang membuat seseorang ingin hidup sekali lagi.

Plot Singkat (Alur Cerita Utama)
Kisah ini berpusat pada Ale, seorang pekerja kantoran berusia 37 tahun yang didiagnosis menderita depresi akut. Merasa hidupnya monoton, terisolasi, dan tidak berharga, serta dibebani oleh pengalaman masa kecil yang menyakitkan dan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya , Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam waktu 24 jam.

Dalam "24 Jam Sebelum Mati" , Ale melakukan persiapan: membersihkan kamarnya, berdandan rapi untuk "menghadap Tuhan" , menulis surat perpisahan, berterima kasih kepada satpam apartemen (satu-satunya orang yang mengingat namanya) , dan memberikan makanan kepada kucing liar.

Permintaan terakhirnya adalah menyantap seporsi mie ayam dari penjual favoritnya, Pak Jo, yang ia anggap sebagai "satu-satunya wangi segar dari segala bau tengik di sekitarku". Namun, rencananya seketika gagal ketika ia mendapati gerobak Pak Jo tertutup; sang penjual mie ayam ternyata telah meninggal dunia malam sebelumnya dan akan dimakamkan hari itu juga.

Kegagalan yang menyebalkan ini justru menjadi awal dari perjalanan tak terduga. Ale, yang mulanya hanya ingin mati, malah terlibat dalam serangkaian peristiwa aneh: membantu prosesi pemakaman Pak Jo, bertemu dengan Pram (anak Pak Jo) , terlibat dalam insiden salah tangkap dan pemukulan oleh aparat, menjadi anak buah seorang kriminal, hingga akhirnya bertemu dengan seorang pria buta bernama Pak Jipren.

Selama perjalanannya, Ale mendapat pelajaran hidup dari berbagai orang, termasuk nasihat dari Pak Jipren yang mengatakan: "Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak mau bangkit lagi".

Di akhir cerita, Pram menepati janji ayahnya dan membuatkan seporsi mie ayam untuk Ale. Setelah melalui semua peristiwa yang membuatnya menyadari bahwa orang-orang yang ia temui adalah "keberkahan paling indah yang pernah aku terima" , Ale meletakkan mangkuk mie ayam itu utuh dan memutuskan untuk tidak memakannya hari itu.

Ia menyadari bahwa kunci untuk bertahan hidup adalah "menerima jika tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana akan berjalan lancar, tidak semua orang akan berlaku baik ketika kamu baik kepada mereka. Dan itu semua tidak apa-apa". Kisah ini berakhir dengan keputusan Ale untuk terus hidup: "Maybe life is worth living again".

Kesepian dan Depresi di Kota Besar: Kisah ini menggambarkan rasa kesepian akut yang dirasakan Ale di tengah keramaian Ibu Kota. Depresi yang dialaminya berakar dari trauma masa kecil dan kurangnya kasih sayang atau pengakuan dari keluarga dan lingkungan.

Pencarian Nilai Diri: Ale terus-menerus merasa tidak berharga, menjadi supporting role di kisah hidupnya sendiri, dan yakin ia mudah digantikan. Perjalanan spiritualnya justru membawanya bertemu dengan orang-orang yang memberinya nilai, seperti satpam, Ipul, dan Pak Jipren, yang meyakinkannya bahwa bertahan hidup adalah "pencapaian besar".

Makna Kehidupan yang Sederhana: Mie ayam berfungsi sebagai metafora untuk harapan kecil dan rasa syukur di tengah kehidupan yang busuk. Keinginan sederhana untuk menyantapnya sebelum mati adalah jangkar yang secara tidak sengaja menunda kematiannya dan memaksanya menjalani kehidupan yang baru.

Takdir dan Jalan yang Membelok: Karakter Ipul memberikan pandangan tematik bahwa Tuhan terkadang membelokkan jalan hidup seseorang dengan keras ("terkejut dan terluka hebat") untuk menyelamatkan mereka dari jalan yang salah yang akan melukai mereka jauh lebih hebat. Ale mengalami hal ini berulang kali, di mana kegagalan rencananya justru menyelamatkan hidupnya.